Langsung ke konten utama

Cara Menangani Konstipasi (Sembelit)


Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan dimana seseorang mengalami pengerasan feses yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada penderitanya.

Frekuensi defekasi/buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu. Konstipasi menandakan kotoran yang melewati usus bergerak lebih lambat dari biasanya, sehingga kotoran menjadi lebih keras dan kering. Faktor-faktor penyebab kosntipasi anatara lain:
   1. Penyakit  pada  saluran  cerna;  sindrom  iritasi  usus,  penyakit  saluran  cerna  atas,  penyakit 
       pada  anal  dan  rektum,  wasir,  tumor,  hernia,  volvulus  usus,  sifilis, TB, infeksi cacing,
       limphogranuloma.
   2. Gangguan  metabolik  dan  endokrin;
   3. Kehamilan;  Penekanan  motilitas  usus,  peningkatan  penyerapan  cairan  dari  usus  besar, 
       penurunan  aktivitas  fisik,  perubahan  diet,  kurangnya  asupan cairan, diet rendah serat,
       penggunaan garam besi.
  4. Neurogenik.
  5. Psikogenik.
  6. Penggunaan obat-obatan tertentu.

Konstipasi dapat terjadi pada segala usia, dari bayi sampai orang tua.Terapi utama yang dilakukan untuk penderita konstipasi adalah perubahan gaya hidup.
  1. Diet tinggi serat (buah, sayuran dan sereal).
  2. Minum susu
  3. Lakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur.


Jika mengubah gaya hidup tidak berpengaruh, dapat mengonsumsi obat pelancar BAB atau disebut juga laksatif. Obat laksatif diantaranya:
  1. Emolien,  adalah  agen  surfaktan  dari  dokusat  dan  garamnya  yang  bekerja  dengan
      memfasilitasi pencampuran bahan berair dan lemak dalam usus halus
  2. Laktulosa dan sorbitol.
  3. Derivat  Difenilmetana.  Turunan  difenilmetana  yang  utama  adalah  bisakodil  dan fenoftalein
  4. Derivat  Antrakuinon.  Termasuk  dalam  derivat  antrakuinon  adalah  sagrada cascara,
      sennosides, dan casathrol.
 5. Katartik Saline.  Katartik  saline terdiri  dari  ion-ion  yang  sulit  diserap  seperti  magnesium,
     sulfat, sitrat, dan fosfat yang bekerja dengan menghasilkan efek osmotik dalam mempertahankan  
     cairan dalam saluran cerna. 
6. Minyak jarak.
7. Gliserin. Gliserin biasanya diberikan dalam bentuk suppositoria 3 gram yang akan  memberikan 
    efek  osmotik  pada  rektum.  Gliserin  dianggap  sebagai  pencahar yang aman meski mungkin
    juga mengakibatkan iritasi rektum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahayanya Kanker Leher Rahim

kanker leher rahim atau biasa disebut kanker serviks merupakan penyakit yang hanya menyerang wanita. Kanker serviks adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV). Serviks adalah bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling mematikan pada wanita. Menurut data Kemenkes RI, terjadi 15000 kasus kanker setiap tahunnya di Indonesia. Virus ini termasuk virus ganas karena mengalami pembelahan dengan cepat, tidak terkendali dan tanpa disadari. Kanker serviks ini tidak menunjukkan gejala yang khas pada stadium awal, namun pada satdium lanjut dapat dilihat dengan gejala-gejala berikut: 1. Keputihan tidak biasa 2. Pendarahan post coitus 3. Pendarahan setelah menopause 4. Mengeluarkan cairan kekuningan 5. Berbau dan bercampur nanah Penelitian mengungkapka bahwa angka harapan hidup pada penderita kanker serviks tergantung stadium yang dialami. Meskipun demikian, angka harapan hidup hanya hitungan persentase...